Di Balik Cerita: Mengasah Pembelajaran Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan Melalui Buku Novel
- Minggu, 15 Januari 2023
- Berita Pengumuman Sekilas-info
- Administrator
- 0 komentar
Jakarta, 9 Juli 2025 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Perbukuan (Pusbuk), Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) menyelenggarakan kegiatan bedah buku dalam rangkaian Di Balik Cerita Episode 2, yangdiselenggarakan di Perpustakaan Kemendikdasmen pada hari Rabu (9/7). Kegiatan Di Balik Ceritakali ini mengangkat novel “Misteri Drumben Tengah Malam” karya Dian Kristiani, salah satu buku nonteks yang direkomendasikan dalam pembelajaran di satuan pendidikan.
Dalam sambutannya, Kepala Pusat Perbukuan, Supriyatno, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pemanfaatan waktu liburan secara positif untuk siswa dengan mengikuti kegiatan bedah buku. Ia mengatakan, bahwa Pusbuk menyebut acara ini Di Balik Cerita agar tidak terlalu kaku dengan istilah bedah buku.
“Kegiatan Di Balik Cerita episode pertama dilaksanakan bertepatan dengan rangkaian Hari Buku Nasional, buku yang dibahas untuk jenjang SMA. Kali ini, untuk episode yang ke dua, Di Balik Ceritamembahas buku untuk jenjang SMP. Kami berharap kegiatan Di Balik Cerita ini akan kita lakukan secara rutin untuk jenjang-jenjang yang lain,” ujar Supriyatno.
Lebih lanjut, Supriyatno mengungkapkan bahwa kegiatan bedah buku ini untuk meningkatkan minat baca sekaligus memperkenalkan berbagai budaya, buku-buku fiksi dan nonfiksi yang telah terbit. “Kami berharap, tidak hanya buku yang diterbitkan Kemendikdasmen, tapi juga dari penerbit swasta yang telah mendapatkan rekomendasi kelayakan, karena saat ini sudah cukup banyak buku-buku yang tersedia di platform yang bisa diunduh dan digunakan di dalam pembelajaran oleh siswa,” ujarSupriyatno.
Sementara itu, Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Muhammad Yusro,menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen pemerintah untuk memperkuat literasi melalui buku nonteks.
“Kami berharap buku fiksi dan nonfiksi tidak hanya dijadikan hobi, tetapi juga dimanfaatkan dalam pembelajaran, agar dapat menumbuhkan minat baca dan menjadi pemantik untuk menulis serta berpikir kritis. Semoga semakin banyak buku nonteks yang bisa diaplikasikan ke pendidikan, dan semakin banyak penulis yang terdorong untuk menulis karya serupa,” ungkap Yusro.
Kreatifitas Menulis untuk Menanamkan Nilai-nilai Humanis
Di Balik Cerita episode dua ini menggali lebih dalam bagaimana sebuah proses kreatif menulis dapat menginspirasi pembacanya. Misteri Drumben Tengah Malam salah satu judul buku nonteks Kemendikdasmen yang mencoba menarik pembacanya dengan mengangkat judul misteri. Menanamkan nilai moral dalam setiap tulisan dengan halus tanpa menggurui.
Dian Kristiani, penulis novel Misteri Drumben Tengah Malam, menuturkan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk menghidupkan kembali semangat membaca dan mengenalkan beragam jenis buku kepada Masyarakat. Ia juga menambahkan, bahwa novel Misteri Drumben Tengah Malam mengusung tema literasi digital, dengan menyisipkan isu-isu aktual seperti phishing, unsur budayadan cara membalas komentar negatif di media sosial.
“Terdapat dua budaya yang saya angkat di buku ini, yakni budaya dari Bengkulu dan Yogyakarta berdasarkan kehidupan yang saya alami, perbedaan budaya antara budaya Bengkulu dan Yogyakarta pasti ada struggle bagi anak-anak. Pengalaman-pengalaman tersebut dikumpulkan sehingga terbentuklah buku ini. Buku ini merupakan pengalaman yang diramu dengan kisah fiksi,” tambahnya.
Buku Nonteks sebagai Sarana Pembelajaran Mendalam
Di kesempatan yang sama, Restu Nur Wahyudin, guru SMP Islam Dian Didaktika menjelaskan penerapan novel ini terhadap pembelajaran mendalam. “Buku ini bisa menjadi pemantik pembelajaran di IPS (tentang keberagaman budaya), PPKn (nilai-nilai Pancasila), dan Bahasa Indonesia (alih wahana cerita, membuat alternatif akhir cerita, hingga presentasi visual). Novel ini juga memungkinkan kolaborasi antarmapel, asal guru mampu menghidupkan nilai moralnya melalui pertanyaan pemantik dan aktivitas literasi seperti membaca nyaring atau membuat infografis,”ungkapnya.
Restu mengatakan bahwa, kuncinya adalah bagaimana cara guru membuat pertanyaan pemantik dari novel kepada murid untuk memandu cerita pada novel. “Mengajak murid membaca dan berfantasi, menyadari makna positif dalam sebuah novel apabila digali lebih lanjut sangat banyak nilai edukasinya,” tuturnya.
Sementara itu, Aqilah Kalista Quinsha, siswi SMPN 19 Jakarta, mengatakan bahwa dirinya menyukai buku ini karena banyak kosakata daerah yang bisa dipelajari. Menurutnya, melalui buku ini dirinya dapat membuka wawasan bahasa yang baru. “Terdapat bahasan tentang mitos-mitos yang ada di Yogyakarta, ini menjadi daya tarik ketika membacanya. Saya suka buku ini karena banyak kosakata daerah dan ada mitos-mitos lokal juga,” jelas Aqilah.
Buku Misteri Drumben Tengah Malam dan buku-buku rekomendasi lainnya yang telah melewati proses penilaian kelayakan dan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran di satuan pendidikan dapat diakses secara gratis melalui Perpustakaan Kemendikdasmen serta platform buku.kemdikbud.go.id. (Penulis: Destya,Tama)